Archive for the 'karet' Category

15
Agu
11

Harga Diprediksi Menguat pada Akhir 2011

Tooltip

Antara

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memperkirakan harga karet bakal menguat hingga akhir tahun karena dipicu naiknya volume dan permintaan. Selain itu, berdasarkan riset Institute Thailand, Thailand sebagai eksportir karet terbesar di dunia mengalami keterbatasan pasokan di tengah menguatnya permintaan produk dari lokal maupun global. Analisis dari DS Futures Co juga menyebutkan terbatasnya pasokan dari Thailand tersebut dapat memicu kenaikan harga.

Pengurangan pasokan komoditas tersebut disebabkan pada awal tahun depan Negeri Gajah Putih itu akan memasuki musim rendah produksi. Di sisi lain, permintaan karet diprediksi menguat. Salah satunya disebabkan adanya lonjakan penjualan mobil di China dan India. Sementara itu, dalam pandangan Direktur Eksekutif Gapkindo Suharto Honggokusumo, ada empat faktor pembentuk harga karet di pasar internasional, yakni kekuatan penawaran dan permintaan, fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar dollar AS terhadap mata uang di sejumlah kawasan, serta aksi spekulan.

“Harga karet mencapai rekor pada Februari 2011, yakni 5,8 dollar AS per kilogram. Hal itu menandakan adanya penguatan harga yang akan terjadi sepanjang tahun ini meski dalam beberapa bulan terakhir menurun tipis,” ujar Suharto.

Pada 2011, salah satu faktor yang memicu kenaikan harga karet adalah tingginya permintaan dari sejumlah negara, seperti Jepang. Saat ini, perekonomian Jepang yang sempat terpuruk akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011 itu mulai pulih. Kondisi tersebut memicu peningkatan permintaan karet untuk produksi ban kendaraan.

Pihak Gapkindo memperkirakan produksi karet dunia pada tahun ini mencapai 10,93 juta ton, sementara tingkat konsumsi mencapai 11,16 juta ton. Hal itu berarti terjadi kekurangan pasokan produk sebesar 234 ribu ton. Adanya ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan komoditas karet disebabkan terjadinya perubahan iklim dan tingginya permintaan dari sejumlah negara. Selain Jepang, India dan China terus meningkatkan konsumsi karetnya. Sebagai gambaran, pada 2010, China menjadi konsumen karet terbesar dengan total permintaan mencapai 3,63 juta ton.

Menguatnya harga karet pada tahun ini didukung pula oleh laporan Federal Reserve mengenai adanya perbaikan perekonomian Amerika Serikat yang masih berlanjut. Hal itu meningkatkan optimisme investor akan kenaikan permintaan karet. Kecenderungan melambungnya harga karet dunia itu semestinya berimplikasi positif terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan petani karet Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara penghasil karet nomor dua di dunia setelah Thailand.

Namun, ironisnya, selama ini keuntungan terbesar justru diperoleh para spekulan di Singapura atau negara-negara lainnya, sementara para petani karet di Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Riau dan daerah lain di Indonesia tidak mencicipi keuntungan yang sama. gus/E-2

referensi: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/69105

15
Agu
11

Komoditas Unggulan I Aksi Spekulan Menjadi Faktor Dominan Penentu Harga Membangun Industri Hilir Karet

Tooltip

Antara
Sebenarnya ekspor bisa saja dikurangi, asal pemerintah bersedia mendukung pertumbuhan industri hilir dengan cara memberi fasilitas, insentif, dan kemudahan bagi industri baru

Indonesia selama ini dikenal sebagai negara penghasil karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Namun, sayangnya, potensi yang besar itu belum dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam menentukan harga karet. Nyatanya, sejak dulu hingga saat ini, lebih dari 50 persen produksi karet alam nasional diekspor dengan harga yang ditentukan oleh pasar berjangka di Singapura.

Sejumlah pihak menganggap Indonesia selama ini dibohongi dalam proses penentuan harga karet. Pasalnya, faktor dominan yang menentukan harga adalah aksi spekulan. Akibatnya, meskipun harga karet dunia melonjak, pendapatan petani karet tetap stagnan. Untuk itu, pemerintah diminta mulai membenahi tata niaga karet, mengurangi impor bahan baku karet alam mentah, serta mengembangkan industri hilir agar produk yang dihasilkan bernilai tambah. Penataan niaga karet juga diharapkan dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan petani, bukan kesejahteraan para spekulan.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan produksi karet nasional sepanjang 2011 diprediksi mencapai 2,9 juta sampai 3 juta ton dengan asumsi kondisi iklim tidak terlalu ekstrem. Angka itu lebih tinggi dibanding dengan perolehan tahun lalu yang mencapai 2,7 juta ton.

Dominasi Ekspor

Pada tahun ini, diperkirakan ada tambahan lahan penanaman karet seluas 5 ribu hektare. Dari total luas lahan yang ada, sekitar 85 persennya atau 2,935 juta hektare merupakan perkebunan rakyat. Suharto menuturkan sebagian besar produksi karet pada tahun ini tetap akan dilempar ke pasar luar negeri mengingat penyerapan produk di dalam negeri masih rendah.

“Dari perkiraan produksi karet nasional sekitar 3 juta ton pada tahun ini, jumlah yang diserap pasar dalam negeri hanya 480 ribu ton dan sebagian besar diekspor. Sebenarnya ekspor bisa saja dikurangi, asal pemerintah bersedia mendukung pertumbuhan industri hilir dengan cara memberi fasilitas, insentif, dan kemudahan bagi industri baru,” kata dia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Suharto menambahkan meskipun daya serap karet alam rendah, ironisnya angka impor karet sintetis nasional justru terbilang tinggi. Sejak tahun 2007 sampai 2009, pertumbuhan impor karet sintetis nasional mencapai 27 persen per tahun. Dalam membangun industri hilir karet alam, jelas Suharto, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh pemerintah.

Pertama, memberikan insentif bagi pendirian industri baru sebagai rangsangan bagi pengusaha nasional untuk berinvestasi. Kedua, memberikan tax holiday kepada industri karet seperti yang diberikan pemerintah kepada industri lainnya. Ketiga, memberikan pembiayaan kembali kredit ekspor, yakni adanya kemudahan kredit ekspor bagi produksi dalam negeri. Keempat, mengurangi premi asuransi kredit ekspor lalu pengurangan pajak pendapatan.

Menurut Ketua Umum Dewan Karet Nasional Azis Pane, untuk mengembangkan industri hilir produk karet, ada tiga persoalan utama yang perlu dibenahi, yakni infrastruktur, energi, dan sumber daya manusia. Di sentra-sentra produksi karet nasional, seperti Sumatra, pengadaan ketiga faktor itu dipandang belum memadai.

Menanggapi perlu adanya pembangunan industri hilir karet nasional, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Arryanto Sagala mengatakan Menteri Perindustrian bersama Menteri Keuangan telah membahas rencana pemberian insentif tersebut. Kedua menteri menyepakati merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang Usaha-usaha Tertentu dan/atau Daerah-daerah Tertentu.

Salah satu insentif yang diberikan adalah pengurangan pajak sebesar 30 persen selama kurun waktu 50 tahun. Insentif diberikan kepada perusahaan yang mempekerjakan minimal 1.000 orang. Kriteria penerima insentif akan lebih diperinci. Pasalnya, menurut Dirjen Pajak, insentif yang sudah ada sebenarnya terbilang cukup menarik, namun kriteria yang ditetapkan terlalu tinggi.

“Pemberian insentif dari pemerintah bagi industri karet masih sekadar wacana. Untuk realisasinya, seperti halnya pemberian tax holiday, belum terlihat hingga saat ini,” ujar Suharto.

Hal itu pula yang menjadikan hingga kini belum ada pengusaha nasional yang mendirikan industri hilir produksi karet. Ironisnya, pemerintah justru mendukung masuknya investor asing di industri karet nasional. Padahal, produksi karet saat ini dipandang masih dapat memenuhi permintaan pasar. Penambahan industri karet yang dikelola investor asing itu dikhawatirkan akan memengaruhi perkembangan harga karet ke depan. gus/E-2

referensi : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/69104

22
Apr
11

Journey part 1

25
Agu
10

Disuruh lari tapi kakinya diikat

Kalimat/judul di atas  yang pantas kita ucapkan untuk mengkoreksi kebijakan  pemerintah khususnya dibidang pertanian. Bagaimana tidak, hampir di semua sektor pertanian pemerintah selalu mempunyai target, contohnya; Pada tahun 2025 pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia 4 juta ton. Tapi nyatanya, betapa susahnya mencari bibit bersertifikat (bibit rekomendasi), betapa mahalnya harga pupuk bahkan seringkali menghilang, betapa tidak terjangkaunya harga obat-obatan pembasmi gulma.

Secara langsung saya ketahui banyak petani karet rugi waktu, tenaga bahkan uang akibat “salah” atau tertipu pada saat membeli bibit. Celakanya, kesalahan atau tertipunya mereka baru diketahui setelah karet yang mereka tanam berumur 5 atau 6 tahun kemudian, karena kisaran umur itulah karet baru bisa dipanen.  Jangan dikira petani hanya rugi 5 atau 6 tahun, menurut bu Muji Lasminingsih dari Pusat Penelitian Sembawa “petani akan rugi selama 30 tahun, karena rata-rata  petani karet meremajakan kebun  mereka berumur  setelah  30 tahun”.

Saya heran sepertinya pemerintah  tidak tanggap atau tidak peka, bahkan budeg dan buta dengan masalah yang dirasakan oleh petaninya. Kenapa pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian tidak bisa menyediakan bibit karet unggul GERATIS untuk rakyatnya? Masa harus swadaya terus?? Lantas peran pemerintahnya mana?? Mengapa tidak diciptakan program sejenis Sarjana Membangun Desa (program ini lebih dikenal dikalangan peternak sebagai Program PKS (Partai Keadilan Sejahtera) karena program ini “dibidani” 2 kader PKS yang duduk sebagai Menteri Pertanian di 2 periode pemerintahan SBY).  Apa lagi ini (mungkin) termasuk agenda dunia dengan save the earth-nya. Saya yakin masih banyak petani di daerah lain  mengalami nasib serupa seperti yang saya maksud di atas dan di bawah.

Oke lah tidak bisa menyediakan bibit gratis,  tapi tolong pak Menteri!! permudah petani mendapatkan akses atau  informasi kemana mereka mendapatkan bibit yang unggul dan bersertifikat, supaya mereka tidak tertipu oleh penangkar bibit yang nakal. Petani  yang sesungguhnya tidak ada dikota, pak Menteri,  sehingga mereka tidak mengenal apa itu internet, sebahagian besar dari petani juga tidak mengenal apa itu Balit dan apa itu BPTP?  Memang sudah banyak informasi tentang pembudidayaan karet, tapi itu masih terbatas melalui media tertentu, seperti internet. Tapi entah kapan petani kita bisa mengenal apa itu internet?

Dengan susah payah mereka memelihara, memupuk, membasmi gulma, walaupun harga pupuk dan obat-obatan pembasmi gulma harganya “selangit”. Tapi pada saat umur sadap tiba, 50% dari jumlah bibit yang mereka tanam tidak menghasilkan getah yang memadai. Ini kenapa bisa terjadi pak Menteri?? Karena petani kita minim informasi tentang kemana mereka mau membeli (bukan minta lho) bibit yang unggul sesuai rekomendasi. Apakah Bapak Menteri Yth rela, rakyatnya menjadi tukang rumput di perkebunan kelapa sawit negara tetangga?  Apakah Bapak Menteri Yth rela,  rakyatnya menjadi tukang sadap di perkebunan karet negara tetangga? Saya pribadi tidak rela Pak Menteri, mereka jadi

Petani yang saya ceritakan di atas bukanlah menggambarkan petani pada umumnya di negara kita,  sebagian besar petani kita yang sebenarnya bahkan jauh lebih miskin, mereka sama sekali tidak mampu membeli bibit palsu sekalipun, mereka juga tidak mampu membeli pupuk yang harganya selangit itu, begitu juga untuk membeli obat-obatan pembasmi gulma,  hanya ototlah satu-satunya yang dapat mereka andalkan. Akibatnya mereka tanam bibit sembarangan yang tidak bermutu, yang penting punya kebun karena sebatas itu kemampuan mereka.

Jadi buat apa pemerintah punya target, kalau sarana penunjangnya tidak disediakan, sama halnya  disuruh lari tapi kakinya diikat.

Ironisnya ketika sipencuri mengambil hasil getah mereka dan ditahan di polisi, si penggede rame-rame membela si pencuri dengan alasan tidak manusiawi. Cape dee

20
Agu
10

Perkiraan biaya berkebun karet per satu ha

Meskipun perkiraan biaya sangat tergantung oleh beberapa hal,  seperti; dimana, kapan,  situasi dan kondisi lainnya.

Berikut ini rincian  biaya yang harus dikeluarkan:

Saya berharap/menghayalkan hasilnya apabila sudah panen., mudah-mudahan tidak berlebihan…,

Kalau saja  satu pohonnya menghasilkan 2 ons, dan dari  650 pohon yang  bisa disadap hanya 400 pohon saja, berarti: 2 ons x 400 pohon = 800 ons (80 kg) @ Rp 7.500 (harga sekarang Rp 9.000) maka hasil perhari adalah : 80 kg x Rp 7.500,- = Rp 600.000,- karena disarankan menyadapnya sehari sadap-sehari tidak,  maka  dalam  satu  bulan  berarti  15  hari,  jadi  saya  bergaji  dalam  satu  bulan adalah; 15 hari x Rp 600.000,- = Rp 9.000.000,- wauuuu banyak bangat.. dibandingkan dengan gaji Sarjana Komputer (IT lagi) masa kerja NOL tahun, dengan jumlah jam kerja 8 jam per hari   “hanya” Rp 4.000.000,- apalagi dibandingkan dengan gaji pegawai negeri GOL III masa kerja NOL tahun,   tidak lebih dari Rp 2.000.000,-  pada hal nyadap karet satu hectare hanya memakan waktu maksimal 3 jam.., dan lebih nikmatnya lagi tidak kena macet.

Supaya kelihatan jangan terlalu tinggi menghayalnya, bagaimana kalau saya turunkan lagi hasil per pohonya dari 2 ons menjadi 1 ons, (pada hal tukang bibit menjanjikan hasilnya 3 ons per pohon lho.) Berarti dari 1 ha karet dapat menghasilkan Rp 4.500.000,-/bulan., Pulang kampung aja yuuk!

15
Jun
10

Bibit Karet Part One

Hallo bloggers..:)

Setelah intermezzo sebelumnya, sekarang saya ingin menggambarkan kepada dinda-dinda  betapa seriusnya saya belajar cara bertani karet dan mendapatkan bibit yang unggul. Sebenarnya sudah tersirat dari paragraph terakhir di postingan sebelumnya, hehe

Saya serius berkonsultasi dengan pakar-pakarnya karena saya takut kecewa. Terutama dalam hal memilih bibit yang unggul, karena hasil pemilihan bibit baru akan kita ketahui setelah kita panen  6-7 tahun, (kata Bos Kenndy umur 5 tahun  boleh di panen apabila priok nasi kita sudah ga ada isinya :D). Jadi dinda, kalo anda ada niat jadi petani karet haruslah serius pelajari dari berbagai sumber  biar capek gpp.

Sudah banyak kasus akibat beli bibit sembarangan, contohnya setelah di panen ternyata getahnya tidak ada. Kalo hal tersebut terjadi,  kita akan rugi waktu, biaya dan tenaga. Tadinya saya pikir kita ‘hanya’ rugi 6-7 th dari segi waktu, ternyata setelah saya baca di mbah google (Muji Lasminingsih Pusat Penelitian Sembawa) kita akan rugi selama 30 tahun,  karena rata-rata petani meremajakan kebun karet mereka, setelah berumur 30 tahun (benar ga Bu? :D)   Yaah.. tapi kenapa ya? pemerintah ga tanggap dengan masalah seperti ini? siapa lagi yang kita salahin kalo bukan pemerintah?  Kenapa  ga bisa nyediain bibit karet unggul GERATIS untuk rakyatnya? Masa harus swadaya terus, peran pemerintahnya mana? Katanya mau save the earth?  haha.. lain forumlah kita bicara gini-ginian.

Sobat bloggers,sebenarnya informasi tetang bertani karet sangat banyak, baik itu  dari literature resmi ataupun ranggun (istilah komeringnya,  atau umumnya orang menyebut obrolan warung kopi) tinggal kita pilih aja. Obrolan ranggun yang HEBOH,  bibit yang baik itu 3 in 1 dan bibit berdaun lima.

Khusus bibit 3 in 1 saya ikut-ikutan mempraktekkannya, sekarang baru  berumur sekitar  3 tahunan, jadi kalo dinda-dinda bertanya bagai mana hasil lateknya belum bisa saya jawab.  Namun logika saya,  hasil lateknya tergantung dari kualitas bibit awal. Tetapi kalau dari perkembangan fisik,  jelas ada perbedaan apabila kita bandingkan dengan bukan 3 in 1.

Cara membuat bibit 3 in 1 adalah: 3 biji karet kita semai di tanah, setelah hidup mengecampah,  ketiga biji tersebut kita tanam/pindahkan bersamaan dalam satu polybag, setelah tinggi pohon kl 30 cm,  masing-masing sisi pohon kita kupas dan gabungkan menjadi satu, kurang lebih  umur satu bulan dari ketiga pohon tersebut  diambil satu pohon saja,   dua pohon alainnya digunting/buang, tentunya yang disisakan yang paling baik tumbuhnya, hasilnya tiga akar menopang satu pohon. Tetapi Dinda, sampai sekarang saya belum menemukan referensi  atau anjuran  baik berupa buku ataupun langsung dari  pakar, untuk memakai bibit 3 in 1 tsb.

Dengan pengalaman saya bertani karet, saya selalu ingat dengan nasihat orang-orang bijak “cintailah apapun yang kamu kerjakan”  ternyata itu benar,  kalau kita sudah mencintai atau menjadikan pekerjaan itu hobby kita, betapa nikmatnya kita menjalankannya,  Naah bayangkan dinda, saya tidak ada rasa malu, risih, capek, rugi apalagi gengsi (padahal dengan anak dan bini lho :D ) ketika saya mungutin biji-biji karet dari Kalibata, Komplek UI Depok, Lanud Halim Perdana Kusuma, bahkan dari lokasi Jambore Cibubur  untuk mempraktekkan yang kata orang 3 in 1 itu bagus. :D

Ahaii.. Dinda.  Sekarang saya sudah punya  beberapa ha kebun karet yang bertujuan komersial , disamping itu saya juga punya kebun pelampiasan rasa hobby, saya berinama;  “laboratorium”  kebun karet,  kurang lebih 1,5 ha dan masing-masing blok saya berinama asal bibit tersebut yaitu;  Kali Bata, UI Depok, Lanud Halim dan Jambore Cibbur.. Oke kan?  Menurut  cerita orang betawi  dari Kali Bata yang paling bagus. CMIIW




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.