26
Sep
12

ANALISA EKONOMI USAHA PENGEMBANGAN BUDIDAYA PRODUKSI GAHARU

Ikut-ikutan galau nich,… Kamis pagi tgl 20 September 2012 saya kedatangan tamu, tujuannya menawarkan bibit Kayu Gaharu. Dengan panjang lebar sitamu mempromosikan bibit Kayu Gaharu tersebut , akhirnya saya tertarik…. Lebih-lebih dia menunjukkan “ANALISA EKONOMI USAHA PENGEMBANGAN BUDIDAYA DAN PRODUKSI GAHARU 100 POHON”. Lusa lahan 0,25 ha, waktu 6 – 8 tahun dengan rincian sebagai berikut:
I. BIAYA
A. Tahun ke – I
1. Pembelian bibit 100 pohon @ Rp 20.000,- Rp 2.000.000,-
2. Pupuk Kandang 1 ton @ Rp 75.000,- Rp 75.000,-
3. Pestisida Rp 20.000,-
4. Tenaga kerja lepas Rp 1.200.000,-
SUB Total A Rp 3.295.000,-
B. Tahun ke – II sampai ke – VII
1. Pupuk kandang Rp 75.000,- x 6 tahun Rp 450.000,-
2. Pestisida Rp 20.000,- x 6 tahun Rp 120.000,-
3. Isolate Fusarium (umur 6 tahu @ Rp 500.000,- x
100 tang/pohon Rp 50.000.000,-
4. Tenaga kerja Pemerliharaan (6 tahun) Rp 7.200.000,-
5. Tenaga kerja panen lepas Rp 1.000.000,-
Sub Total B Rp 58.770.000,-
C. Total Biaya (A + B) Rp 62.065.000,-
II. PENERIMAAN
Pohon yang dipanen diasumsikan hanya 80 peren dari 100 pohon yaitu 80 pohon:
1. Gubal 80 kg @ Rp 7.000.000,- Rp 560.000.000,-
2. Kemedangan 800 kg @ Rp 500.000,- Rp 400.000.000,-
3. Abu gaharu 1.200 kg @ Rp 15.000,- Rp 18.000.000,-
Sub Total C Rp 978.000.000,-
III. KEUNTUNGAN II – I = 978.000.000 – 62.065.000,- Rp 915.935.000,-
Wauuuu Fantastis,…
Seterusnya mohon disimak keterangan berikut.

SISTEM POLA KEMITRAAN
* Sistem 60 – 40
- 60 % Untuk pihak Perusahaan dan 40 % Untuk Petani Mitra

• Ketentuan sebagai berikut:
- Bibit dibeli oleh pihak petani Mitra dari Dypa Aquilaria Mandiri
(demi keaslian jenis dan kualitas bibit)
- Seluruh biaya untuk pengadaan inokulan, biaya tenaga kerja inokulasi pohon gaharu,
Pengurusan perijinan, biaya pemanenan dan biaya pemasaran hasil panen serta wacana mengasuransikan Petani Mitra dan mengasuransikan pohon gaharu yang sudah di inokulasi
Menjadi beban tanggungjawab sepenuhnya pihak Dypa Aquilaria Mandari.

• Pelaksanaan bagi hasil dilakukan setelah pembayaran selesai dilakukan oleh pihak pembeli.
• Petani Mitra berkewajiban menanam, merawat, serta menjaga pohon gaharu sampai waktunya panen.
• Resiko kehilangan atau kerusakan akibat kelalaian menjadi beban pihak Petani Mitra.
• Resiko kegagalan inokulasi menjadi beban pihak Dypa Aquilaria Mandiri.

PROGRAM KEMITRAAN BUDIDAYA GAHARU
GAHARU:
Indonesia telah dikenal sebagai salah satu Negara penghasil GAHARU di dunia. Gahru merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu, yang dihasilkan dari pohon gaharu melalui rekayasa produksi (Inokulasi). Penanaman pohon gaharu dapat dilakukan secara agrofresty (tumpang sari) dengan tanaman jagung, singkon, pisang atau disela-sela tanaman pokok yang telah tumbuh terlebih dahulu, seperti karet, akasia sengon, kelapa sawit, jati dll.
Saat ini gaharu banyak diminati oleh konsumen baik dalam negeri maupun luar negeri . Permintaan dunia akan gaharu sangat tinggi dan Indonesia baru dalam prosentase kecil saja sebagai pemasok gaharu, sehingga perlu membudidayakan pohon gaharu guna memenuhi pangsa pasar dunia.
VISI DAN MISI DYPA:
Dypa Aquilaria Mandiri mempunyai misi dan visi mensejahtrakan petani dengan cara mengubah petani tradisional menjadi petani yang cerdas dengan lahan minimal dapat menghasilkan yang maksimal dengan pola tanam gaharu sehingga tercapai kesejahtraan hidup petani.
PROGRAM KEMITRAAN:
Sejalan dengan tujuan visi dan misinya Dypa Aquilaria Mandiri mengajak masyarakat untuk bergabung dalam kemitraan budidaya tanaman gaharu dengan ketentuan sebagai berikut:
Ketentuan umum:
- Kepemilikan lahan yang sah (ada bukti kepemilikan)
- Warga setempat (sesuai KTP)
- Menandatangani dan sanggup menjalankan dan mematui ketentuan yang tertian dalam perjanjan kemitraan (Surat Perjanjian Kerjasama) di depan Notaris.
- Tanpa Agunan
- Tidak terkat utang piutang anatara petani dengan Dypa Aquilaria Mandiri.
- System pola kemitraan 60-40, 60% untuk pihak prusahaan dan 40% untuk petani mitra.
Kewajiban dan Hak:
Kewajiban Dypa Aquilaria Mandiri:
- Menyediakan atau menjual bibit gaharu kualitas super
- Jasa teknologi inokulasi setelah gaharu umu 4 sampai 6 tahun
- Supervisi dan evaluasi serta tindak lajut permasalahnan fisik pohon gaharu
- Pemanenan tanaman gaharu
- Pemasaran eksport
- Seluruh biaya untuk pengadaan inokulan, biaya tenaga inokulasi pohon gaharu, pengurusan perizinan, biaya pemanenan, dan biaya pemasaran hasil panen, serta mengasuransikan jiwa petani dan mengasuransikan pohon gaharu setalah di inokulasi menjadi beban tanggung jawab sepenuhnya pihak Dypa Aquilaria Mandiri.

Kewajiban Petani Mitra:
- Membeli bibit kualitas super yang disediakan oleh Dypa Aquilaria Mandir seharga Rp 20.000,- per batang
- Petani mita berkewajiban menanam, merawat serta menjaga pohon gaharu yang telah di inokulasi sampai dengan waktunya panen.
Hak Dipa Aquilaria Mandir dan Petani Mita:
Pelaksanaan bagi hasil setelah pemanenan selesai yaitu 60 – 40, 60% untuk perusahaan dan 40% untuk Petani Mitra.

SYARAT PENDAFTARAN:
- Mengisi formulir pendafran yang telah disediakan rangkap 3 (1 asli dan 2 Foto Copy)
- Foto Copy 3 lembar
- Foto copy kartu kelurga 3 lembar
- Foto copy bukti kepemilikan tanah
- Pas fhoto 4 x 6 (warna)

KOMPOSISI HASIL KEMITRAAN
Jlh pohon Biaya Bibit Biaya Inokulasi Perkiraan Hasil Hsl Utk Pers Hsl Utk Petani
100 2.000.000,- 50.000.000,- 915.935.000,- 549.561.000,- 366.374.000,-
200 4.000.000,- 100.000.000,- 1.835.570.000,- 1.101.342.000,- 734.228.000,-
Dstnya…

15
Agu
11

Harga Diprediksi Menguat pada Akhir 2011

Tooltip

Antara

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memperkirakan harga karet bakal menguat hingga akhir tahun karena dipicu naiknya volume dan permintaan. Selain itu, berdasarkan riset Institute Thailand, Thailand sebagai eksportir karet terbesar di dunia mengalami keterbatasan pasokan di tengah menguatnya permintaan produk dari lokal maupun global. Analisis dari DS Futures Co juga menyebutkan terbatasnya pasokan dari Thailand tersebut dapat memicu kenaikan harga.

Pengurangan pasokan komoditas tersebut disebabkan pada awal tahun depan Negeri Gajah Putih itu akan memasuki musim rendah produksi. Di sisi lain, permintaan karet diprediksi menguat. Salah satunya disebabkan adanya lonjakan penjualan mobil di China dan India. Sementara itu, dalam pandangan Direktur Eksekutif Gapkindo Suharto Honggokusumo, ada empat faktor pembentuk harga karet di pasar internasional, yakni kekuatan penawaran dan permintaan, fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar dollar AS terhadap mata uang di sejumlah kawasan, serta aksi spekulan.

“Harga karet mencapai rekor pada Februari 2011, yakni 5,8 dollar AS per kilogram. Hal itu menandakan adanya penguatan harga yang akan terjadi sepanjang tahun ini meski dalam beberapa bulan terakhir menurun tipis,” ujar Suharto.

Pada 2011, salah satu faktor yang memicu kenaikan harga karet adalah tingginya permintaan dari sejumlah negara, seperti Jepang. Saat ini, perekonomian Jepang yang sempat terpuruk akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011 itu mulai pulih. Kondisi tersebut memicu peningkatan permintaan karet untuk produksi ban kendaraan.

Pihak Gapkindo memperkirakan produksi karet dunia pada tahun ini mencapai 10,93 juta ton, sementara tingkat konsumsi mencapai 11,16 juta ton. Hal itu berarti terjadi kekurangan pasokan produk sebesar 234 ribu ton. Adanya ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan komoditas karet disebabkan terjadinya perubahan iklim dan tingginya permintaan dari sejumlah negara. Selain Jepang, India dan China terus meningkatkan konsumsi karetnya. Sebagai gambaran, pada 2010, China menjadi konsumen karet terbesar dengan total permintaan mencapai 3,63 juta ton.

Menguatnya harga karet pada tahun ini didukung pula oleh laporan Federal Reserve mengenai adanya perbaikan perekonomian Amerika Serikat yang masih berlanjut. Hal itu meningkatkan optimisme investor akan kenaikan permintaan karet. Kecenderungan melambungnya harga karet dunia itu semestinya berimplikasi positif terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan petani karet Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara penghasil karet nomor dua di dunia setelah Thailand.

Namun, ironisnya, selama ini keuntungan terbesar justru diperoleh para spekulan di Singapura atau negara-negara lainnya, sementara para petani karet di Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Riau dan daerah lain di Indonesia tidak mencicipi keuntungan yang sama. gus/E-2

referensi: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/69105

15
Agu
11

Komoditas Unggulan I Aksi Spekulan Menjadi Faktor Dominan Penentu Harga Membangun Industri Hilir Karet

Tooltip

Antara
Sebenarnya ekspor bisa saja dikurangi, asal pemerintah bersedia mendukung pertumbuhan industri hilir dengan cara memberi fasilitas, insentif, dan kemudahan bagi industri baru

Indonesia selama ini dikenal sebagai negara penghasil karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Namun, sayangnya, potensi yang besar itu belum dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam menentukan harga karet. Nyatanya, sejak dulu hingga saat ini, lebih dari 50 persen produksi karet alam nasional diekspor dengan harga yang ditentukan oleh pasar berjangka di Singapura.

Sejumlah pihak menganggap Indonesia selama ini dibohongi dalam proses penentuan harga karet. Pasalnya, faktor dominan yang menentukan harga adalah aksi spekulan. Akibatnya, meskipun harga karet dunia melonjak, pendapatan petani karet tetap stagnan. Untuk itu, pemerintah diminta mulai membenahi tata niaga karet, mengurangi impor bahan baku karet alam mentah, serta mengembangkan industri hilir agar produk yang dihasilkan bernilai tambah. Penataan niaga karet juga diharapkan dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan petani, bukan kesejahteraan para spekulan.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan produksi karet nasional sepanjang 2011 diprediksi mencapai 2,9 juta sampai 3 juta ton dengan asumsi kondisi iklim tidak terlalu ekstrem. Angka itu lebih tinggi dibanding dengan perolehan tahun lalu yang mencapai 2,7 juta ton.

Dominasi Ekspor

Pada tahun ini, diperkirakan ada tambahan lahan penanaman karet seluas 5 ribu hektare. Dari total luas lahan yang ada, sekitar 85 persennya atau 2,935 juta hektare merupakan perkebunan rakyat. Suharto menuturkan sebagian besar produksi karet pada tahun ini tetap akan dilempar ke pasar luar negeri mengingat penyerapan produk di dalam negeri masih rendah.

“Dari perkiraan produksi karet nasional sekitar 3 juta ton pada tahun ini, jumlah yang diserap pasar dalam negeri hanya 480 ribu ton dan sebagian besar diekspor. Sebenarnya ekspor bisa saja dikurangi, asal pemerintah bersedia mendukung pertumbuhan industri hilir dengan cara memberi fasilitas, insentif, dan kemudahan bagi industri baru,” kata dia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Suharto menambahkan meskipun daya serap karet alam rendah, ironisnya angka impor karet sintetis nasional justru terbilang tinggi. Sejak tahun 2007 sampai 2009, pertumbuhan impor karet sintetis nasional mencapai 27 persen per tahun. Dalam membangun industri hilir karet alam, jelas Suharto, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh pemerintah.

Pertama, memberikan insentif bagi pendirian industri baru sebagai rangsangan bagi pengusaha nasional untuk berinvestasi. Kedua, memberikan tax holiday kepada industri karet seperti yang diberikan pemerintah kepada industri lainnya. Ketiga, memberikan pembiayaan kembali kredit ekspor, yakni adanya kemudahan kredit ekspor bagi produksi dalam negeri. Keempat, mengurangi premi asuransi kredit ekspor lalu pengurangan pajak pendapatan.

Menurut Ketua Umum Dewan Karet Nasional Azis Pane, untuk mengembangkan industri hilir produk karet, ada tiga persoalan utama yang perlu dibenahi, yakni infrastruktur, energi, dan sumber daya manusia. Di sentra-sentra produksi karet nasional, seperti Sumatra, pengadaan ketiga faktor itu dipandang belum memadai.

Menanggapi perlu adanya pembangunan industri hilir karet nasional, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Arryanto Sagala mengatakan Menteri Perindustrian bersama Menteri Keuangan telah membahas rencana pemberian insentif tersebut. Kedua menteri menyepakati merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang Usaha-usaha Tertentu dan/atau Daerah-daerah Tertentu.

Salah satu insentif yang diberikan adalah pengurangan pajak sebesar 30 persen selama kurun waktu 50 tahun. Insentif diberikan kepada perusahaan yang mempekerjakan minimal 1.000 orang. Kriteria penerima insentif akan lebih diperinci. Pasalnya, menurut Dirjen Pajak, insentif yang sudah ada sebenarnya terbilang cukup menarik, namun kriteria yang ditetapkan terlalu tinggi.

“Pemberian insentif dari pemerintah bagi industri karet masih sekadar wacana. Untuk realisasinya, seperti halnya pemberian tax holiday, belum terlihat hingga saat ini,” ujar Suharto.

Hal itu pula yang menjadikan hingga kini belum ada pengusaha nasional yang mendirikan industri hilir produksi karet. Ironisnya, pemerintah justru mendukung masuknya investor asing di industri karet nasional. Padahal, produksi karet saat ini dipandang masih dapat memenuhi permintaan pasar. Penambahan industri karet yang dikelola investor asing itu dikhawatirkan akan memengaruhi perkembangan harga karet ke depan. gus/E-2

referensi : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/69104

23
Apr
11

melepas lelah, b jaya – bakauheni biasa 3 jam, tapi x ini 5 jam

23
Apr
11

sp36, 2 minggu kemudian baru kcl dan urea

23
Apr
11

bayleton vs jap (jamur akar putih)

23
Apr
11

paling cepat 2 jam 30 menit




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.